SyekhJangkung lahir pada pertengahan abad 15. Ibunda Syekh Jangkung merupakan keponakan dari Sunan Kudus. Ayahanda beliau adalah Syekh Abdul Hasif yang berasal dari TImur Tengah. Dok : Perjalanan 3 Wanita Trans TV. Liputan dilakukan sebelum masa Pandemi Covid 19.
penulisbersama Kiai Dadang yang tidak lain adalah paman penulis, menelusuri jejak silsilah keluarga kami. Hingga terungkaplah bahwa keluarga kami memiliki hubungan nasab sampai Eyang Hasan Maolani. Sejak mengetahui fakta ini, penulis mencoba mencari informasi mengenai Eyang Hasan Maolani dan didapatkan data bahwa Eyang
NabiMuhammad SAW. Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad. PANGERAN HASANUDDIN - PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552-1570) berputera : MAULANA YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570-1580) berputra : MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596) berputra : SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD 'ABDUL KADIR KENARI (1596
1 SILSILAH KYAI MUZAKKI JALUR NYAI KUMALA BINTI SUNAN CENDANA KE SUNAN AMPEL GENERASI 29 NABI MUHAMMAD Sholallahu ala
Laduni Kabupaten Pemalang terletak di pantai utara Pulau Jawa, secara astronomis kabupaten ini terletak antara 109°17'30-109°40'30 BT dan 6°52'30" - 7°20'11" LS, luas Wilayah nya sebesar 111.530 km2. Syekh Maulana Syamsudin Memiliki Nama lengkap Sayyid Hasan Syamsudin bin Awwad Al Alawi.Beliau di lahirkan pada sekitar tahun 1700 M atau
3 tergabung dalam kartu keluarga no. 3173061602100052; 4. istri dari JAWARDI; 5. terkait dengan RQ Sama Taat; IDD-017 19/11/1976 Rawa Lele RT 009 RW 001, Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat MARIFAH HASANAH 1. NIK 1810025003750005; 2. tergabung dalam kartu keluarga no. 1810020204086190 IDD-018 Podomoro 10/03/1975
. Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak bisa diungkapkan secara jelas dan runtut, terutama silsilahnya ke atas, karena catatan dan dokumen silsilah keluarga beliau ikut hangus terbakar ketika rumahnya mengalami musibah kebakaran. Namun, menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang terpandang, yakni dan keturunan sultan-sultan Selaparang, sebuah kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Pulau Lombok. Disebutkan bahwa Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17. Pendapat ini tentu saja paralel dengan analisa yang diajukan oleh seorang antropolog berkebangsaan Swedia bernama Sven Cederroth, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum Pemilu. Praktek ziarah semacam ini memang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk masyarakat Sasak, untuk mengidentifikasikan diri dengan leluhurnya. Disamping itu pula, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak pernah secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap anggapan dan pernyataan-pernyataan yang selama ini beredar tentang silsilah ketununannya, yakni kaitan genetiknya dengan sultan-sultan Kerajaan Selaparang. Keluarga Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Kakak kandung beliau lima orang, yakni Siti Syarbini, Siti Cilah, Hajjah Saudah, Haji Muhammad Sabur dan Hajjah Masyitah. Ayahandanya TGH. Abdul Madjid yang terkenal dengan penggilan "Guru Mu'minah" adalah seorang muballigh dan terkenal pemberani. Beliau pernah memimpin pertempuran melawan kaum penjajah, sedangkan ibundanya Hajjah Halimah al-Sa'diyah terkenal sangat salehah. Sejak kecil al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid terkenal sangat jujur dan cerdas. Karena itu tidaklah mengherankan bila ayah-bundanya memberikan perhatian istimewa dan menumpahkan kasih sayang begitu besar kepada beliau. Ketika melawat ke Tanah Suci Mekah untuk melanjutkan studi, ayah-bundanya ikut mengantar ke Tanah Suci. Ayahandanya-lah yang mencarikan guru tempat beliau belajar pertama kali di Masjid Haram dan sempat menemani beliau di Tanah Suci sampai dua kali musim haji. Sedangkan ibundanya Hajjah Halimatus Sa'diyah ikut bermukim di Tanah Suci mendampingi dan mengasuh beliau sampai ibundanya tercintanya itu berpulang ke rahmatullah tiga setengah tahun kemudian dan dimakamkan di Mu'alla Mekah. Dengan demikian, tampak jelaslah betapa besar perhatian ayah-bundanya terhadap pendidikan beliau. Hal ini juga tercermin dari sikap ibundanya bahwa setiap kali beliau berangkat untuk menuntut ilmu, ibundanya selalu mendoakan dengan ucapan "Mudah mudahan engkau mendapat ilmu yang barakah" sambil berjabat tangan serta terus memperhatikan kepergian beliau sampai tidak terlihat lagi oleh pandangan mata. Pernah suatu ketika, beliau lupa pamit pada ibundanya. Beliau sudah jauh berjalan sampai ke pintu gerbang baru sang ibu melihatnya dan kemudian memanggil beliau untuk kembali, Gep, gep, gep nama panggilan masa kecil beliau, koq lupa bersalaman?, ucap ibunda beliau dengan suara yang cukup keras. Akhirnya, beliau pun kembali menemui ibundanya sembari meminta maaf dan bersalaman. Lalu sang ibu mendoakan beliau. Mudah-mudahan anakku mendapatkan ilmu yang barokah. Setelah itu beliau kemudian berangkat ke sekolah. Hal ini merupakan suatu pertanda bahwa betapa besar kesadaran ibundanya akan penting dan mustajabnya doa ibu untuk sang anak sebagaimana ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW, bahwa doa ibu menduduki rangking kedua setelah doa Rasul.
Daftar Isi Apa itu Silsilah Keluarga Urutan Silsilah Keluarga Jawa Sunda Inggris Cara Membuat Silsilah Keluarga Contoh Silsilah Keluarga - Silsilah keluarga adalah hal penting yang harus diketahui setiap orang. Pengetahuan dasar ini penting untuk mengetahui garis keturunan kita, siapa saja para pendahulu kita. Manfaat yang bisa dirasakan utamanya berkaitan dengan budaya dan agama. Misalnya silsilah keluarga digunakan untuk menentukan wali pernikahan, atau untuk menentukan marga bagi suku itu Silsilah KeluargaDilansir dari penelitian UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, silsilah keluarga adalah catatan hubungan beberapa generasi keluarga yang digambarkan dalam suatu struktur pohon. Format penyajian silsilah keluarga yang paling umum ialah posisi generasi tua di atas dan generasi selanjutnya berada di urutan silsilah keluarga ini berbeda-beda, biasanya tergantung adat budaya masing-masing daerah. Misal pada masyarakat Jawa, silsilah keluarga bisa disebutkan hingga 18 tingkatan. Beda lagi pada masyarakat Sunda yang memiliki tujuh tingkatan. JawaSilsilah ke bawah maupun ke atas pada keluarga Jawa memiliki sebutan yang sama. Hanya pada urutan ke-1 dan ke-2 yang memiliki sebutan keturunan 1 ke bawah di sebut anak, urutan 1 ke atas disebut bapak/ibu. Jika urutan 2 ke bawah disebut putu, urutan 2 ke atas disebut simbah atau ini silsilah lengkap masyarakat Jawa mulai 18 generasi atas hingga 18 generasi bawah, dilansir dari penelitian UIN Sayyid Ali Rahmatullah ke-18 eyang trah tumerahMoyang ke-17 eyang menya-menyaMoyang ke-16 eyang menyamanMoyang ke-15 eyang amplengMoyang ke-14 eyang cumplengMoyang ke-13 eyang giyengMoyang ke-12 eyang cendhengMoyang ke-11 eyang gropak watonMoyang ke-10 eyang galih asemMoyang ke-9 eyang debog bosokMoyang ke-8 eyang gropak sentheMoyang ke-7 eyang gantung siwurMoyang ke-6 eyang udeg-udegMoyang ke-5 eyang warengMoyang ke-4 eyang canggahMoyang ke-3 eyang buyutMoyang ke-2 eyang/simbahMoyang ke-1 bapak/ibu AndaKeturunan ke-1 anakKeturunan ke-2 putuKeturunan ke-3 buyutKeturunan ke-4 canggahKeturunan ke-5 warengKeturunan ke-6 udeg-udegKeturunan ke-7 gantung siwurKeturunan ke-8 gropak sentheKeturunan ke-9 debog bosokKeturunan ke-10 galih asemKeturunan ke-11 gropak watonKeturunan ke-12 cendhengKeturunan ke-13 giyengKeturunan ke-14 cumplengKeturunan ke-15 amplengKeturunan ke-16 menyamanKeturunan ke-17 menya-menyaKeturunan ke-18 trah istilah di atas, masih ada sebutan untuk keluarga dekat. Misalnya pakde kakak dari ayah/ibu, paklik/bulik adik dari ayah/ibu, ponakan keponakan/anak dari saudara kandung.SundaSilsilah pada masyarakat Sunda ada tujuh tingkatan. Generasi di atas moyang ke-7 disebut karuhun. Berikut ini urutan silsilah keluarga Sunda dari 7 generasi atas hingga 7 generasi bawah yang dilansir dari laman Universitas Negeri ke-7 gantung/kait siwurMoyang ke-6 udeg-udegMoyang ke-5 jangga warengMoyang ke-4 baoMoyang ke-3 buyutMoyang ke-2 embah/aki/niniMoyang ke-1 kolot/indung/bapa AndaKeturunan ke-1 anakKeturunan ke-2 incuKeturunan ke-3 buyutKeturunan ke-4 baoKeturunan ke-5 jangga warengKeturunan ke-6 udeg-udegKeturunan ke-7 gantung/kait itu ada sebutan untuk keluarga dekat, misalnya emang/paman/bibi adik dari ayah/ibu, ua kakak dari ayah/ibu, alo keponakan/anak dari kakak, suan keponakan/anak dari adik.InggrisBerikut ini silsilah keluarga hingga beberapa generasi dan sebutan untuk keluarga dekat yang dilansir dari laman English moyang forefathersKakek/nenek buyut great grandfather/great grandmotherKakek/nenek grandfather/grandmotherAyah dad/fatherIbu mom/motherAnak son/daughterCucu grandson/granddaughterCicit great granddaughter/great grandsonBibi/tante auntPakde/om uncleSepupu cousinKeponakan niece/ Membuat Silsilah KeluargaAnda bisa membuat silsilah keluarga sendiri dengan dua cara. Pertama adalah cara manual dengan menggambar sendiri. Kedua menggunakan aplikasi online. Berikut manual dilakukan dengan menggambar sendiri dimulai dari generasi paling atas. Langkahnya sebagai berikutTentukan berapa banyak generasi yang ingin dari generasi tertua di atas lalu turun ke individu diwakili dengan kotak dan terhubung dengan orang lain dengan nama dan posisi dalam bentuk garis berbeda untuk hubungan yang cara online bisa dilakukan dengan masuk ke situs penyedia jasa pembuatan silsilah keluarga. Prosesnya sangat mudah. Di sana sudah ada berbagai template sehingga Anda tinggal memasukkan nama pada Silsilah KeluargaDi bawah ini ada tiga contoh silsilah keluarga. Contoh 1 dan 2 menggambarkan keluarga inti dengan satu generasi di bawah. Sedangkan contoh 3 lebih rumit dengan menggambarkan hingga empat generasi di 1Foto CanvaContoh pertama menggambarkan seseorang yang memiliki tiga saudara kandung. Masing-masing sudah menikah dan memiliki 2Foto CanvaContoh kedua menggambarkan dua generasi di atasnya beserta keluarga dari paman dan 3Foto SMAN 1 PamotanContoh ketiga menggambarkan detail dari empat generasi di atasnya lengkap dari sisi ayah maupun itulah tadi penjelasan mengenai silsilah keluarga yang menjadi hal penting untuk mengetahui para pendahulu kita. Cara membuatnya pun mudah, yaitu dapat dilakukan secara manual maupun situs online. Simak Video "Rangkaian Pelebon Raja Denpasar IX Manah Toya Ning hingga Pawai Ogoh-ogoh" [GambasVideo 20detik] bai/fds
Mawlānāsysyāikh Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd sing. Hamzanwadi adalah seorang ulama karismatis dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan merupakan pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islām terbesar di provinsi tersebut. Di pulau Lombok, Tuan Guru merupakan gelar bagi para pemimpin agama yang bertugas untuk membina, membimbing dan mengayomi umat Islām dalam hal-hal keagamaan dan sosial kemasyarakatan, yang di Jawa identik dengan Kyai. Kelahiran Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd' dilahirkan di Kampung Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriah bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 Masehi dari perkawinan Tuan Guru Hajjī Abdul Madjīd beliau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Guru Mu'minah atau Guru Minah dengan seorang wanita shālihah bernama Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah. Nama kecil beliau adalah 'Muhammād Saggāf', nama ini dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang sangat menarik untuk dicermati, yakni tiga hari sebelum dilahirkan, ayahandanya, TGH. Abdul Madjīd, didatangi dua walīyullāh, masing-masing dari Hadhramaũt dan Maghrabī. Kedua walīyullāh itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni "Saqqāf". Beliau berdua berpesan kepada TGH. Abdul Madjīd supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama "Saqqāf", yang artinya "Atapnya para Wali pada zamannya". Kata "Saqqāf" di Indonesiakan menjadi "Saggāf" dan untuk dialek bahasa Sasak menjadi "Segep". Itulah sebabnya beliau sering dipanggil dengan "Gep" oleh ibu beliau, Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah. Setelah menunaikan ibadah hajjī, nama kecil beliau tersebut diganti dengan 'Hajjī Muhammād Zainuddīn'. Nama inipun diberikan oleh ayah beliau sendiri yang diambil dari nama seorang 'ulamā' besar yang mengajar di Masjīd al-Harām. Akhlāq dan kepribadian ulamā' besar itu sangat menarik hati ayahandanya. Nama ulamā' besar itu adalah Syaīkh Muhammād Zainuddīn Serawak, dari Serawak, Malaysia. Silsilah Menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang terpandang, yakni dan keturunan sulthān-sulthān Selaparang, sebuah kerajaan Islām yang pernah berkuasa di Pulau Lombok. Disebutkan bahwa Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd merupakan keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17. Pendapat ini tentu saja paralel dengan analisis yang diajukan oleh seorang antropolog berkebangsaan Swedia bernama Sven Cederroth, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum Pemilu. Praktik ziarāh semacam ini memang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, termasuk masyarakat Sasak, untuk mengidentifikasikan diri dengan leluhurnya. Disamping itu pula, Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd tidak pernah secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap anggapan dan pernyataan-pernyataan yang selama ini beredar tentang silsilah keturunannya, yakni kaitan genetiknya dengan sulthān-sulthān Kerajaan Selaparang. Keluarga Maulānāsysyāikh TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Kakak kandungnya lima orang, yakni Siti Syarbini, Siti Cilah, Hajjah Sawdah, Hajji Muhammād Shabūr dan Hajjah Masyitah. Ayahandanya TGH. Abdul Madjīd yang terkenal dengan penggilan "Guru Mu'minah", semasa mudanya bernama Luqmānul Hakīm merupakan seorang muballigh dan terkenal pemberani. Beliau pernah memimpin pertempuran melawan kaum penjajah, sedangkan ibu Maulānāsysyāikh, Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah terkenal sangat shãlihah. Luqmānul Hakīm membawa Maulānāsysyāikh ke Mekkah untuk menimba ilmu agama ketika beliau berusia 9 tahun. Pendidikan Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji membaca Al-Qur'ān dan berbagai 'ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahandanya, yang dimulai sejak berusia 5 tahun. Pendidikan Lokal Setelah berusia 9 tahun, ia memasuki pendidikan formal yang disebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M. Setelah menamatkan pendidikan formalnya, beliau kemudian diserahkan oleh ayahandanya untuk menuntut 'ilmu agama yang lebih luas dari beberapa Tuan Guru lokal, antara lain TGH. Syarafuddīn dan TGH. Muhammād Sa'īd dari Pancor serta Tuan Guru 'Abdullāh bin Amaq Dulajī dari desa Kelayu, Lombok Timur. Ketiga guru agama ini mengajarkan ilmu agama dengan sistem halaqah, yaitu para santri duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan guru membaca Kitāb yang sedang dipelajari, kemudian masing-masing murid secara bergantian membaca. Pendidikan di Mekah Untuk lebih memperdalam 'ilmu agama, Muhammād Zainuddīn remaja kembali berangkat menuntut 'ilmu ke Mekah diantar kedua orang tuanya, tiga orang kemenakan dan beberapa orang keluarga, termasuk pula TGH. Syarafuddīn. Pada saat itu beliau berusia 15 tahun, yaitu menjelang musim Haji tahun 1341 H/1923 M. Sesampai di Tanah Suci, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung mencari rumah kontrakan di Suqullail, Mekah. Belajar di Masjid al-Haram Beberapa saat setelah musim haji usai, TGH. Abd. Madjid mulai mencarikan guru buat anaknya. Sampailah pencarian TGH. Abd. Madjid pada sebuah halaqah. Syaikh yang mengajar ditempat tersebut bernama Syaīkh Marzūqī, seorang keturunan 'Arāb kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjīd al-Harām, yang saat itu berusia sekitar 50 tahun. Disanalah Maulānāsysyāikh TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd diserahkan untuk belajar. Selain itu juga sempat belajar 'ilmu sastra pada ahli syair terkenal di Mekah, yakni Syaīkh Muhammād Āmīn al-Quthbī dan pada saat itu berkenalan dengan Sayyīd Muhsin Al-Palembanī, seorang keturunan 'Arāb kelahiran Palembang yang kemudian menjadi guru beliau di Madrasah al-Shaulatiyah. Ketika ayah TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd pulang ke Lombok, ia langsung berhenti belajar mengaji pada Syaīkh Marzūqī, karena ia merasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut 'ilmu selama ini, hal itu dikarenakan kehausan beliau akan ilmu. Namun, sebelum sempat mencari guru, terjadi perang saudara antara kekuasaan dengan golongan Wahabi. Belajar di Madrasah al-Shaulatiyah Dua tahun setelah terjadinya huru hara tersebut, TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd muda berkenalan dengan seseorang yang bernama Hajji Mawardī dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia diajak untuk belajar di madrasah al-Shaulatiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaīkh Salīm Rahmatullāh. Pada hari pertama masuknya ia bertemu dengan Syaīkh Hasan Muhammād al-Masysyāth. Madrasah al-Shaulatiyah adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke kelas 4, kemubeliaun loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemubeliaun pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9. Perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid belajar di Tanah Suci Mekah selama 13 tahun kemubeliaun kembali ke Indonesia atas perintah dari guru yang paling beliau kagumi, yakni Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, pada tahun 1934. Setiba di Pulau Lombok beliau mendirikan Sekembali dari Tanah Suci Mekah ke Indonesia mula-mula beliau mendirikan pesantren al-Mujahidin pada tahun 1934 M. kemubeliaun pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 M. beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah NWDI. Madrasah ini khusus untuk mendidik kaum pria. Kemubeliaun pada tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 H/21 April 1943 M. beliau mendirikan madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah NBDI khusus untuk kaum wanita. Kedua madrasah ini merupakan madrasah pertama di Pulau Lombok yang terus berkembang dan merupakan cikal bakal dari semua madrasah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Wathan. Dan secara khusus nama madrasah tersebut beliaubadikan menjadi nama pondok pesantren 'Dar al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan'. Istilah 'Nahdlatain' beliaumbil dari kedua madrasah tersebut. Al Mukkarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai ulama' pemimpin umat, dalam kehidupan bermasyarakt dan berbangsa telah mengemban berbagai jabatan dan menanamkan berbagai jasa pengabdian. Oleh karena jasa-jasa beliau itulah, maka pada tahun 1995 belau beliaunugerahi Piagam Penghargaan dan medali Pejuang Pembangunan oleh pemerintah. Disamping itu, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selaku seorang mujahid selalu berupaya mengadakan inovasi dalam gerakan perjuangannya untuk meningkatkan kesejahteraan ummat demi kebahagian di dunia maupun di akhirat. Di antara inovasi/rintisa-rintisan beliau adalah menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran agama Islam di NTB dengan sistem madrasi, membuka lembaga pendidikan khusus untuk wanita, mengadakan ziarah umum Idul Fitri dan Idul Adha dengan mendatangai jamaah di samping didatangi, meyelenggarakan pengajian umum secara bebas, mengadakan gerakan doa dengan berhizib, mengadakan syafa'at al-kubro, menciptakan tariqat, yakni tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, membuka sekolah umum disamping sekolah agama madrasah, menyusun nazam berbahasa Arab bercampur bahasa Indonesia, dan lain-alin. Karya Al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selaku ulama' pewaris para Nabi, di samping menyampaikn dakwah bi al-hal wa bi al-lisan, juga tergolong penulis dan pengarang yang produktif. Bakat dan kemampuan beliau sebagai pengarang ini tumbuh dan berkembang sejak beliau masih belajar di Madrasah Shaulatiyah Mekah. Namun karena banyaknya dan padatnya kegiatan keagamaan dan keasyarakatan yang harus diisi maka peluang dan kesempatan untuk memperbanyak tulisan tampaknya sangat terbatas. Kendatipun demikian di tengah-tengah keterbatasan waktu itu, beliau masih sempat mengarang beberapa kitab, kumpulan doa, dan lagu-lagu perjuangan dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sasak. Wafat Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M / 18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul WITA di kebeliauman beliau di desa Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar beliau tinggalkan ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara. Pada hari Kamis, 9 November 2017 bertempat di Istana Negara, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Kepres Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Empat tokoh yang dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo yakni almarhum Tuan Guru Kiai Haji TKGH Muhammad Zainuddin Madjid asal Lombok Nusa Tenggara Barat, almarhumah Laksamana Malahayati asal Aceh, almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau, dan almarhum Prof. Drs. Lafran Pane asal Daerah Istimewa Yogyakarta.
silsilah keluarga maulana syaikh